Jajanan Tradisional Berbahan Tepung Beras yang Kaya Sejarah dan Identitas Lokal
Jojorong adalah jajanan tradisional khas Banten, khususnya dikenal di wilayah Pandeglang, Serang, dan Lebak. Makanan ini terbuat dari tepung beras dan santan, dengan isian gula aren cair, lalu dimasak dalam wadah daun pisang yang dibentuk menyerupai mangkuk kecil.
Sekilas, jojorong tampak sederhana: berwarna putih pucat, teksturnya lembut dan sedikit kenyal. Namun saat disantap, bagian tengahnya akan mengalirkan gula aren cair yang manis dan harum, menciptakan sensasi rasa yang khas dan tidak berlebihan.
Jojorong biasanya disajikan sebagai:
Jajanan pasar tradisional
Hidangan selamatan
Camilan sore pendamping teh atau kopi
Kuliner ini mencerminkan karakter masyarakat Banten yang sederhana, bersahaja, dan dekat dengan alam.
๐ Sejarah Jojorong (±300 Kata)
Jojorong lahir dari tradisi kuliner masyarakat agraris Banten yang sejak lama mengandalkan beras, kelapa, dan gula aren sebagai bahan pangan utama. Ketiga bahan ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan menjadi fondasi banyak makanan tradisional setempat.
Sejarah jojorong tidak tercatat secara tertulis, namun diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dahulu, jojorong dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga untuk disajikan dalam acara keluarga, pengajian, dan selamatan kampung. Proses pembuatannya yang sederhana memungkinkan siapa pun membuatnya tanpa peralatan khusus.
Penggunaan daun pisang sebagai wadah bukan sekadar praktis, tetapi juga memiliki makna budaya. Daun pisang melambangkan kedekatan manusia dengan alam serta filosofi hidup yang tidak berlebihan. Aroma daun pisang yang terkena panas juga memberi cita rasa alami pada jojorong.
Isian gula aren cair di tengah jojorong memiliki simbol tersendiri. Dalam budaya lokal, manisnya gula aren sering dimaknai sebagai harapan akan kehidupan yang manis dan berkah, sementara lapisan luar yang putih dan lembut melambangkan kesucian dan ketulusan.
Pada masa lalu, jojorong juga menjadi salah satu jajanan yang dijual di pasar tradisional sebagai sumber penghasilan tambahan keluarga. Namun seiring berkembangnya jajanan modern, keberadaan jojorong mulai terpinggirkan dan hanya muncul di pasar-pasar tertentu atau acara adat.
Meski demikian, jojorong tetap bertahan sebagai identitas kuliner khas Banten yang mencerminkan kearifan lokal, kesederhanaan, dan nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
๐งบ Bahan-bahan Jojorong
200 gram tepung beras
600 ml santan encer
½ sendok teh garam
150 gram gula aren
50 ml air (untuk gula aren)
Daun pisang secukupnya (untuk wadah)
๐ฉ๐ณ Cara Membuat Jojorong
Rebus gula aren dengan air hingga larut dan mengental, sisihkan.
Campurkan tepung beras, santan, dan garam dalam wadah.
Aduk hingga adonan halus dan tidak menggumpal.
Bentuk daun pisang menjadi mangkuk kecil dan sematkan dengan lidi.
Tuang adonan tepung ke dalam wadah daun pisang hingga setengah penuh.
Kukus selama ±10 menit hingga adonan mulai set.
Tambahkan gula aren cair di bagian tengah.
Kukus kembali ±15–20 menit hingga matang sempurna.
Angkat dan sajikan hangat.
๐ฝ️ Cara Penyajian
Jojorong paling nikmat:
Disajikan hangat
Tanpa topping tambahan
Dinikmati perlahan agar gula aren di dalamnya terasa maksimal
Comments
Tidak ada komentar:
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"