Senja tak pernah benar-benar datang hari itu. Langit telah lebih dulu diselimuti awan kelabu, seolah matahari memilih bersembunyi agar tak melihat seseorang yang sedang menunggu.
Di bibir pantai itu, seorang gadis berdiri diam. Kakinya membiarkan ombak kecil menyentuh kulit tanpa alas, seolah ingin merasakan setiap pesan yang dibawa laut. Angin memainkan ujung hijabnya, sementara matanya terus memandang cakrawala yang tak pernah menjawab.
Sudah lama ia menyukai pantai.
Bukan karena debur ombaknya, melainkan karena laut mengajarkan satu hal yang tak pernah diajarkan manusia: melepaskan.
Setiap ombak datang dengan semangat, mencium pasir dengan penuh harapan. Namun, tak pernah memaksa untuk tinggal. Ia selalu kembali ke lautan, membawa apa yang memang harus dibawa.
"Kalau rindu bisa dibuang seperti ombak, mungkin aku sudah tenang sejak lama," gumamnya lirih.
Beberapa tahun lalu, ia pernah berjalan di pantai yang sama bersama seseorang yang selalu membuatnya percaya bahwa masa depan hanyalah soal waktu. Mereka pernah berjanji akan kembali ke tempat ini ketika semua mimpi telah tercapai.
Namun hidup ternyata lebih pandai menulis cerita daripada manusia.
Jarak, kesibukan, dan keadaan membuat janji itu perlahan berubah menjadi kenangan. Tak ada pertengkaran, tak ada kebencian. Hanya dua hati yang dipaksa berjalan ke arah yang berbeda.
Kini, hanya dirinya yang kembali.
Laut masih sama. Ombaknya masih bernyanyi. Anginnya masih membawa aroma asin yang dulu pernah mereka nikmati bersama.
Yang berubah hanyalah orang yang berdiri di tepi pantai.
Ia tersenyum kecil.
Bukan karena luka itu telah hilang, tetapi karena akhirnya ia mengerti bahwa tidak semua yang pergi harus kembali. Ada yang memang hadir hanya untuk mengajarkan cara menjadi lebih kuat.
Langit perlahan mulai memantulkan sedikit cahaya di balik awan. Tak banyak, tetapi cukup untuk membuat permukaan air berkilau.
Ia melangkah perlahan, meninggalkan jejak kaki di pasir basah. Jejak itu sebentar kemudian dihapus oleh ombak, seakan alam berkata bahwa setiap kesedihan pun akan menemukan waktunya untuk hilang.
Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah laut.
"Terima kasih," bisiknya.
Bukan kepada seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Melainkan kepada dirinya sendiri.
Karena telah bertahan.
Karena telah belajar menerima.
Dan karena akhirnya berani melangkah tanpa harus menoleh ke belakang.
Di balik langit yang masih mendung, ia percaya satu hal.
Tidak semua perjalanan harus berakhir dengan bersama.
Kadang, perjalanan terbaik adalah ketika seseorang berhasil menemukan dirinya sendiri setelah sekian lama mencarinya di hati orang lain.
Ombak terus berdatangan.
Dan di antara suara laut yang tak pernah berhenti, ia akhirnya menemukan ketenangan yang selama ini ia cari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"