Raka tidak pernah menyangka bahwa seseorang bisa begitu dekat, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Awalnya sederhana.
Mereka sering berbicara tentang pekerjaan, penelitian, jurnal, dan urusan kampus. Di sela-sela kesibukan itu, Raka mulai mengenal Nafisa lebih jauh. Perempuan yang cerdas, mandiri, suka bercanda, dan sering membuatnya tersenyum hanya lewat beberapa baris pesan singkat.
Nafisa berbeda.
Ia tidak pernah memberi janji.
Tidak pernah memberi harapan.
Tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi.
Mungkin karena itulah Raka bertahan.
Suatu hari, Raka memberanikan diri menyampaikan niat baiknya.
Ia ingin datang ke rumah Nafisa.
Bukan sebagai tamu biasa.
Melainkan sebagai laki-laki yang ingin menunjukkan keseriusan.
Ketika mendengar bahwa Nafisa sudah menyampaikan hal itu kepada orang tuanya, hati Raka berbunga-bunga.
Mungkin ini pertanda baik.
Mungkin jalan itu mulai terbuka.
Namun hari demi hari berlalu.
Jawaban yang ditunggu tak kunjung datang.
Raka menunggu.
Menunggu lagi.
Dan kembali menunggu.
Sampai akhirnya yang datang bukan kepastian, melainkan penolakan yang dibungkus dengan sangat sopan.
Keluarga Nafisa belum berkenan menerima kunjungan itu.
Bagi Nafisa, itu hanya sebuah keputusan.
Bagi Raka, ada sesuatu yang lebih dalam yang ikut terluka.
Bukan karena ditolak.
Melainkan karena perasaan yang selama ini ia simpan diam-diam kembali mengingatkannya pada luka lama.
Luka tentang seseorang yang dulu pernah ia cintai.
Seseorang yang pernah membuatnya menunggu berjam-jam tanpa kabar.
Seseorang yang pergi begitu saja hingga akhirnya menikah dengan orang lain.
Luka itu belum benar-benar sembuh.
Dan tanpa sadar, Raka melihat bayangan masa lalu itu pada Nafisa.
Kesalahan yang kemudian ia sesali.
Perdebatan panjang pun terjadi.
Nafisa marah.
Bukan karena Raka menyukainya.
Tetapi karena ia merasa sedang dihukum atas kesalahan orang lain.
"Aku bukan mantan kakak," tulisnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa."
Raka terdiam.
Karena untuk pertama kalinya ia sadar.
Mungkin benar.
Mungkin selama ini yang berbicara bukan dirinya.
Melainkan luka yang belum selesai.
Namun Nafisa pun menyimpan lukanya sendiri.
Sebuah luka yang selama ini tidak pernah benar-benar ia ceritakan.
Tentang seorang laki-laki bernama Ferry.
Tunangan yang telah pergi untuk selamanya.
Seseorang yang pernah menjadi jawaban dari doa-doanya.
Seseorang yang meninggalkan ruang kosong yang belum mampu diisi siapa pun.
Ketika suatu hari Raka tanpa sengaja mengaitkan kepergian Ferry dengan sebuah candaan yang buruk, Nafisa menangis.
Bukan di depan Raka.
Bukan di depan siapa pun.
Sendirian.
Dan sejak saat itu sebuah tembok perlahan berdiri di antara mereka.
Hari-hari berlalu.
Amarah mereda.
Ego mulai turun.
Mereka akhirnya berbicara dengan lebih tenang.
Raka menjelaskan semua isi kepalanya.
Tentang rasa takut.
Tentang luka.
Tentang alasan mengapa ia begitu sensitif terhadap sikap Nafisa.
Sementara Nafisa menjelaskan mengapa ia selalu menjaga jarak.
Mengapa ia tidak pernah memberi perhatian berlebih.
Mengapa ia takut memberikan harapan yang tidak mampu ia penuhi.
Malam itu tidak ada yang menang.
Tidak ada yang kalah.
Hanya dua orang yang akhirnya mengerti bahwa mereka sedang berdiri di tempat yang berbeda.
"Kita tetap silaturahmi ya, Kak."
Pesan itu datang dari Nafisa beberapa hari kemudian.
Raka membaca berulang kali.
Lama.
Sangat lama.
Karena ia tahu arti sebenarnya.
Itu bukan ajakan untuk memulai.
Melainkan cara paling lembut untuk mengakhiri.
Beberapa waktu setelahnya, Raka mengirimkan hadiah ulang tahun.
Tidak besar.
Tidak istimewa.
Hanya sebuah janji yang pernah ia ucapkan dan ingin ia tepati.
Nafisa menerimanya.
Mengucapkan terima kasih.
Seperti dua sahabat yang pernah melewati badai bersama.
Tahun berganti.
Percakapan semakin jarang.
Kesibukan mulai mengambil ruang yang dulu diisi oleh pesan-pesan panjang.
Sesekali mereka masih berbicara soal pekerjaan.
Sesekali masih saling membantu.
Namun tidak lebih dari itu.
Tidak ada lagi pembahasan tentang masa depan.
Tidak ada lagi pembahasan tentang perasaan.
Tidak ada lagi harapan yang digantungkan.
Dan pada suatu malam yang sunyi, Raka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini sulit diterimanya.
Tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan menjadi pasangan hidup.
Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan pelajaran.
Ada yang datang untuk memperlihatkan luka yang belum sembuh.
Ada yang membuat kita bertumbuh, lalu pergi.
Nafisa bukan kisah yang gagal.
Ia hanya kisah yang tidak pernah sampai.
Dan untuk pertama kalinya, Raka bisa tersenyum ketika mengingat namanya.
Bukan karena masih berharap.
Tetapi karena akhirnya ia berhasil melepaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"