Senja yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

 

Langit sore itu menggantungkan awan kelabu di atas laut. Matahari perlahan turun, memantulkan cahaya keemasan di antara ombak yang berkejaran menuju batu-batu pemecah gelombang.

Nafisa berdiri beberapa langkah dari bibir pantai. Angin mengibaskan ujung jilbabnya, sementara matanya menatap jauh ke arah matahari yang sebentar lagi tenggelam.

Di belakangnya, orang-orang sibuk mengabadikan senja. Ada pasangan yang saling menggenggam tangan, keluarga kecil yang tertawa, dan sekelompok sahabat yang bercanda.

Namun bagi Nafisa, senja selalu membawa kenangan.

Tentang seseorang bernama Raka.

Pertemuan mereka tidak pernah dimulai dengan kata cinta.

Semuanya berawal dari pekerjaan, proposal penelitian, jurnal, SINTA, BIMA, hingga obrolan ringan tentang ramen, nasi padang, bahkan kemacetan menjelang Lebaran.

Raka adalah laki-laki yang selalu hadir ketika Nafisa membutuhkan bantuan pekerjaan.

Sedangkan Nafisa adalah perempuan yang selalu terlihat ceria, tetapi menyimpan luka yang tidak semua orang tahu.

Mereka sama-sama berjalan.

Tanpa pernah benar-benar saling menggenggam.

Lalu datanglah hari ketika semuanya berubah.

Kesalahpahaman.

Ekspektasi.

Perbandingan dengan masa lalu.

Dan kata-kata yang tidak pernah bisa ditarik kembali.

Raka baru sadar bahwa beberapa kalimatnya ternyata melukai bagian paling rapuh dalam hidup Nafisa.

Tentang seseorang yang pernah sangat dicintainya.

Tentang kehilangan.

Tentang luka yang bahkan waktu pun belum selesai mengobatinya.

Di pantai itu...

Nafisa tersenyum kecil.

Bukan karena sudah lupa.

Tetapi karena akhirnya ia mengerti...

Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita memang ditakdirkan untuk tinggal.

Ada yang datang hanya untuk mengajarkan cara memahami orang lain.

Ada yang datang untuk memperlihatkan bahwa cinta tanpa komunikasi hanyalah dua hati yang saling menebak.

Raka pernah berkata,

"Kalau nanti kamu dijemput suamimu, mungkin aku tidak sanggup melihatnya."

Kalimat itu dulu terdengar seperti penolakan terhadap perpisahan.

Kini, setelah waktu berjalan, Nafisa justru memahami.

Bukan karena Raka membencinya.

Melainkan karena mencintai seseorang kadang berarti belajar menerima bahwa kebahagiaannya mungkin tidak bersama kita.

Ombak kembali menghantam batu.

Langit mulai berubah menjadi jingga tua.

Nafisa menarik napas panjang.

"Terima kasih ya, Raka..."

bukan karena semuanya indah.

Tetapi karena dari semua luka itu, ia belajar satu hal.

Bahwa memaafkan jauh lebih ringan daripada terus membawa beban.

Di tempat yang berbeda, mungkin Raka juga sedang melihat matahari yang sama.

Mungkin ia juga teringat perempuan yang dulu sering bercanda tentang ramen, proposal penelitian, dan cita-cita menjadi dosen yang lebih baik.

Namun kali ini...

Tidak ada lagi penyesalan.

Tidak ada lagi keinginan untuk mengulang waktu.

Hanya doa yang diam-diam terbang bersama angin senja.

"Semoga Allah selalu menjaga langkahmu, Nafisa.

Matahari akhirnya tenggelam.

Langit tetap indah.

Dan laut tetap memeluk setiap ombak yang datang.

Seperti kehidupan...

yang tidak pernah meminta kita melupakan masa lalu.

Ia hanya meminta kita terus berjalan.

Karena setiap senja pasti berakhir.

Tetapi esok, matahari akan terbit kembali.

Dan mungkin...

hati yang pernah retak pun akan menemukan cahaya yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"

SEARCH

RECENT POSTS

Loading posts...

CATEGORIES

TAG CLOUD

Loading tags...