Hujan turun pelan di jalan Kadugede sore itu.
Nafisa menyandarkan kepala ke jok mobil sambil menatap antrean kendaraan yang mengular. Niatnya sederhana. Ia hanya ingin makan nasi Padang untuk berbuka puasa.
Namun seperti banyak hal dalam hidup, yang sederhana sering kali tidak berjalan sesuai rencana.
Ponselnya bergetar.
"Udah pulang? Kenapa enggak mampir. Itu rumah saya yang cat warna biru."
Nafisa tersenyum kecil.
Dulu, beberapa bulan yang lalu, pesan seperti itu mungkin akan membuat dadanya berdebar. Kini tidak lagi. Setidaknya begitu yang selalu ia yakinkan pada dirinya sendiri.
"Iya udah pulang, hujan gede soalnya."
Percakapan berlanjut ringan. Tentang nasi Padang yang tutup. Tentang macet. Tentang desa dan kota.
Sederhana.
Terlalu sederhana untuk orang-orang yang pernah saling melukai.
Raka menatap layar ponselnya lama setelah percakapan berakhir.
Ada masa ketika setiap pesan dari Nafisa membuatnya berharap.
Ada masa ketika ia menghitung berapa lama pesan itu dibalas.
Ada masa ketika ia membayangkan kedatangan seorang gadis ke rumahnya bukan sebagai tamu, tetapi sebagai seseorang yang akan diperkenalkan kepada keluarganya.
Semua itu sudah lewat.
Setidaknya begitu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri.
Namun kenyataannya, setiap kali nama Nafisa muncul di layar, ada sesuatu yang masih bergerak di dalam dada.
Sesuatu yang belum benar-benar selesai.
Hari-hari berikutnya kembali dipenuhi obrolan tentang pekerjaan.
SINTA.
Google Scholar.
Jabatan fungsional.
Proposal penelitian.
Hal-hal yang bahkan terdengar membosankan bagi kebanyakan orang.
Tetapi bagi mereka, topik-topik itu menjadi jembatan yang menjaga percakapan tetap hidup.
Nafisa sering bertanya.
Raka sering membantu.
Dan di sela-sela pembahasan akademik itu, sesekali muncul candaan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan maknanya.
Seperti saat Raka berkata,
"Soalnya bawa kamu susah."
Nafisa tertawa.
"Diluar dugaan jawabannya."
Mereka sama-sama tertawa.
Lalu kembali berpura-pura bahwa kalimat itu hanyalah candaan biasa.
Awal April membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi Nafisa.
Proposal penelitian yang sangat ia harapkan ternyata tidak lolos pendanaan.
Pagi itu ia menangis.
Bukan karena gagal.
Tetapi karena proposal yang justru lolos adalah proposal yang diam-diam ia bantu kerjakan untuk orang lain.
Rasanya tidak adil.
Dan rasa tidak adil selalu menyakitkan.
Ia menghubungi Raka.
Menceritakan semuanya.
Tentang marah.
Tentang kesal.
Tentang kecewa.
Tentang tangis yang ia sembunyikan sebelum memakai make-up.
Raka membaca semua pesan itu.
Lalu menjawab seperti biasa.
Tenang.
Pelan.
Tanpa menghakimi.
Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi.
Ia hanya membutuhkan tempat untuk mengeluh.
Malam itu Raka duduk sendiri di teras rumah.
Angin berembus pelan.
Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang basah.
Ponselnya masih menyimpan ratusan percakapan dengan Nafisa.
Percakapan yang dimulai dari urusan pekerjaan.
Lalu berkembang menjadi perhatian.
Kemudian berubah menjadi harapan.
Dan akhirnya berakhir menjadi pelajaran.
Ia tersenyum kecil.
Kadang hidup memang lucu.
Tidak semua orang yang kita perjuangkan akan menjadi milik kita.
Tidak semua orang yang kita cintai akan berjalan bersama kita sampai akhir.
Ada yang datang hanya untuk mengajarkan cara mencintai dengan lebih dewasa.
Ada yang hadir hanya untuk menunjukkan luka yang belum sembuh.
Dan ada yang tetap tinggal...
bukan sebagai pasangan,
melainkan sebagai seseorang yang pernah begitu berarti.
Raka memandang langit malam.
Lalu mengunci layar ponselnya.
Di sana masih ada nama Nafisa.
Masih ada percakapan.
Masih ada silaturahmi.
Tetapi tidak lagi ada harapan yang dipaksa tumbuh.
Karena akhirnya ia mengerti.
Tidak semua kisah harus berakhir dengan memiliki.
Kadang, cukup dengan mengikhlaskan.
Dan membiarkan seseorang tetap bahagia meskipun bukan bersama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"