Senja di Ujung Percakapan


Raka tidak pernah tahu sejak kapan ia mulai menunggu notifikasi dari Nafisa.

Mungkin sejak perempuan itu tiba-tiba mengirim pesan suatu pagi.

"Haaiiii."

Hanya satu kata.

Tidak ada tujuan khusus. Tidak ada pertanyaan penting. Tidak ada urusan pekerjaan.

Namun pesan sederhana itu berhasil membuat pagi Raka terasa berbeda.

"Haiii juga, Nafi."

Sejak saat itu percakapan mereka mengalir seperti sungai kecil yang tidak pernah direncanakan arahnya.

Kadang mereka membicarakan perjalanan.

Kadang tentang pekerjaan kampus.

Kadang tentang hal-hal yang bahkan tidak penting.

Tentang motor yang membuat punggung pegal.

Tentang helm yang terlalu berat.

Tentang jalanan menuju kota-kota kecil yang jarang dikunjungi orang.

Tentang listrik yang mati.

Tentang dosen yang datang terlambat.

Tentang kehidupan yang terasa lucu ketika dilihat dari jarak tertentu.

Tidak ada yang istimewa.

Tapi justru karena itulah semuanya terasa istimewa.

Suatu hari Nafisa sedang melakukan perjalanan jauh menggunakan motor.

"Encok dikit motoran ke Subang."

Raka tersenyum membaca pesannya.

"Baru juga sekali."

Beberapa menit kemudian Nafisa kembali membalas.

"Puyeng mau muntah saking pusingnya."

"Kalau sampai begitu mah kelainan."

"Enak aja kelainan!"

Raka tertawa sendiri.

Percakapan mereka selalu seperti itu.

Tidak pernah serius.

Tidak pernah romantis.

Tetapi juga tidak pernah terasa asing.

Minggu berikutnya Raka harus menghadiri sebuah kegiatan di luar kota.

Pukul empat pagi ponselnya berbunyi.

"Hahaha."

"Waw, jangan-jangan jam segini udah di kampus."

Raka melihat jam.

Bahkan sebelum matahari terbit, Nafisa masih sempat memikirkan keberadaannya.

"Belum. Ini baru mau berangkat."

Tak lama kemudian muncul balasan lagi.

"Okay hati-hati."

Pesan itu sederhana.

Namun Raka menyimpannya lebih lama daripada yang seharusnya.

Hari demi hari berlalu.

Percakapan mereka terus ada.

Bukan setiap saat.

Bukan setiap jam.

Tetapi cukup sering untuk membuat seseorang terbiasa.

Dan terkadang, kebiasaan adalah awal dari sesuatu yang berbahaya.

Karena tanpa sadar hati mulai menciptakan harapan.

Sampai akhirnya pada suatu sore, Raka memberanikan diri menanyakan arah yang selama ini tidak pernah mereka bicarakan.

Ia ingin tahu apakah jalan yang mereka tempuh selama ini menuju tempat yang sama.

Atau hanya dua garis yang kebetulan berjalan beriringan.

Jawaban Nafisa datang beberapa saat kemudian.

"Aku pengen nikah... tapi belum berani."

Raka membaca pesan itu perlahan.

Lalu sekali lagi.

Dan sekali lagi.

"Aku masih pengen main dulu. Explore dulu."

Ada jeda panjang sebelum ia membalas.

Di luar jendela, langit mulai berubah warna.

Seperti sesuatu yang perlahan berakhir tanpa suara.

Hari-hari setelah itu terasa berbeda.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada perpisahan.

Tidak ada kata-kata menyakitkan.

Namun sesuatu berubah.

Percakapan yang dulu mengalir bebas mulai menemukan batasnya.

Jika Nafisa bertanya soal pekerjaan, Raka menjawab.

Jika tentang proposal, ia menjawab.

Jika tentang penelitian, ia menjawab.

Selain itu, ia memilih diam.

Bukan karena marah.

Bukan karena kecewa.

Melainkan karena ia mulai belajar bahwa tidak semua rasa harus diperjuangkan sampai habis.

Suatu malam Nafisa mengirim pesan.

"Ada yang mau dibantu enggak? Proposalku udah selesai."

Raka menatap layar cukup lama.

Dulu mungkin ia akan mencari alasan agar percakapan itu bertahan.

Hari ini tidak.

"Terima kasih tawarannya. Jika nanti saya butuh bantuan akan saya kabari."

Ia menekan tombol kirim.

Lalu meletakkan ponselnya.

Waktu berjalan.

Semakin jarang ada pesan.

Semakin jarang ada cerita.

Semakin jarang ada alasan untuk saling menghubungi.

Sampai akhirnya yang tersisa hanyalah pekerjaan.

Dan pekerjaan suatu hari juga selesai.

Pada suatu malam yang tenang, Raka duduk sendirian di teras rumah.

Langit gelap tanpa bintang.

Ponselnya sunyi.

Tidak ada pesan dari Nafisa.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada apa-apa.

Ia memandang layar yang kosong.

Lalu tersenyum kecil.

Mungkin Nafisa memang telah pergi.

Mungkin juga tidak.

Namun untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak lagi terasa penting.

Karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini sulit diterima.

Bahwa ada orang-orang yang hadir bukan untuk tinggal.

Mereka datang untuk mengajarkan bahwa kedekatan tidak selalu berakhir menjadi kebersamaan.

Dan bahwa cinta yang dewasa bukan tentang memaksa seseorang memilih kita.

Melainkan tetap berjalan meskipun ia tidak memilih kita.

Raka mematikan layar ponselnya.

Malam terasa lebih sunyi dari biasanya.

Namun anehnya, untuk pertama kali setelah sekian lama, kesunyian itu tidak lagi menyakitkan.

Ia hanya terasa seperti rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"

SEARCH

RECENT POSTS

Loading posts...

CATEGORIES

TAG CLOUD

Loading tags...