Langit sore itu tidak sedang ramah.
Awan kelabu menggantung rendah, menutupi sebagian cahaya matahari. Ombak berulang kali menghantam batu pemecah gelombang, seolah sedang melampiaskan sesuatu yang telah lama dipendam.
Nafisa berdiri sendirian.
Tidak ada senja keemasan seperti kemarin. Hari itu laut tampak lebih dingin, lebih gaduh, dan lebih jujur.
Ia menatap ombak yang terus datang.
Datang...
Lalu pecah.
Kemudian hilang.
Persis seperti beberapa orang yang pernah singgah dalam hidupnya.
Dulu, setiap kali ada masalah pekerjaan, ia selalu menghubungi Raka.
Tentang proposal penelitian.
Tentang jurnal.
Tentang SINTA.
Tentang BIMA.
Tentang hal-hal kecil yang kadang sebenarnya bisa ia cari sendiri.
Entah sejak kapan, obrolan pekerjaan berubah menjadi cerita tentang hidup.
Tentang keluarga.
Tentang makanan favorit.
Tentang mimpi.
Dan tentang masa depan.
Semuanya mengalir begitu saja.
Tanpa mereka sadari, hati mulai ikut berbicara.
Namun hati manusia tidak selalu berjalan searah.
Raka membawa luka masa lalunya.
Sedangkan Nafisa masih menyimpan duka yang belum benar-benar selesai.
Mereka sama-sama ingin dipahami.
Namun sama-sama lupa belajar memahami.
Satu sibuk berharap.
Yang lain sibuk menjaga jarak agar tidak memberi harapan.
Sampai akhirnya...
Semua yang tidak pernah diucapkan berubah menjadi kesalahpahaman.
Nafisa memungut sebuah batu kecil di tepi pantai.
Ia melemparkannya ke laut.
"Byur..."
Gelombang langsung menelannya.
Seperti waktu yang menelan semua percakapan mereka.
Tidak ada yang benar-benar salah.
Hanya dua orang yang datang dengan luka masing-masing.
Dan berharap orang lain bisa mengerti tanpa pernah menjelaskan semuanya.
Angin semakin kencang.
Nafisa menutup kedua matanya.
Ia masih ingat ketika Raka pernah berkata,
"Aku hanya ingin membantumu."
Kalimat sederhana.
Tetapi kini terasa jauh lebih dalam.
Mungkin benar...
Perhatian seseorang tidak selalu berarti ia ingin memiliki.
Kadang...
Ia hanya ingin memastikan orang yang ia sayangi baik-baik saja.
Di kejauhan, ombak kembali memecah batu.
Batu itu tetap diam.
Tidak melawan.
Tidak marah.
Tidak menghindar.
Ia hanya menerima bahwa ombak memang datang untuk menghantam.
Dan setelah itu...
Ombak akan pergi sendiri.
Nafisa tersenyum kecil.
Barangkali hati juga harus belajar seperti batu.
Tetap kokoh.
Tanpa harus membenci ombak yang pernah melukainya.
Ia membuka ponselnya.
Masih ada nama Raka tersimpan di sana.
Tidak lagi sebagai seseorang yang pernah ingin diperjuangkan.
Tetapi sebagai seseorang yang pernah mengajarkan banyak hal.
Bahwa komunikasi lebih penting daripada asumsi.
Bahwa perhatian tidak boleh berubah menjadi tuntutan.
Bahwa cinta tidak cukup hanya dengan niat baik.
Ia membutuhkan cara yang benar untuk disampaikan.
Langit mulai semakin gelap.
Orang-orang yang tadi bermain di pantai mulai pulang.
Hanya suara ombak yang masih setia menemani sore itu.
Nafisa melangkah meninggalkan bibir pantai.
Ia tidak membawa penyesalan.
Tidak juga membawa harapan lama.
Ia hanya membawa satu doa.
"Ya Allah... jika Raka memang bukan takdirku, jadikanlah ia bagian dari cerita yang membuatku lebih dewasa. Dan jika suatu hari Engkau mempertemukan kami kembali, biarlah sebagai dua orang yang telah selesai berdamai dengan masa lalu."
Ombak kembali datang.
Lalu surut.
Dan untuk pertama kalinya...
Nafisa sadar.
Laut tidak pernah meminta ombak untuk tinggal.
Tetapi laut selalu menerima setiap ombak yang datang.
Begitulah hati yang telah belajar ikhlas.
Ia tidak lagi sibuk mempertanyakan siapa yang pergi.
Karena ia tahu...
Allah selalu menyimpan pelabuhan terbaik untuk setiap perjalanan yang tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"