Batas yang Tidak Diucapkan

 

Malam itu Raka duduk sendiri di depan layar laptopnya. Proposal penelitian lima tahun yang harusnya menjadi fokus utama justru berhenti di halaman ketiga. Kursor berkedip tanpa ampun di layar putih, sementara pikirannya terjebak pada satu nama yang beberapa minggu terakhir memenuhi ruang kepalanya: Nafisa.

Semua bermula dari percakapan sederhana.

"Aku mau nikah tapi belum berani haha, jadi takut salah jawaban. Aku milih temenan dulu aja sama semua."

Pesan itu datang sore hari. Raka membacanya berulang kali. Ia mencoba memahami maksud di balik tawa kecil dan emoji yang terlihat ringan itu.

Ia tahu Nafisa bukan perempuan yang suka berbicara terlalu serius. Banyak hal ia bungkus dengan candaan, termasuk ketakutannya sendiri.

"Terima kasih atas keterbukaannya," balas Raka hati-hati. "Selama ini kita saling kenal sebagai rekan kerja, bukan sebagai pasangan. Saya belum terlalu paham juga apa yang menyebabkan kamu belum berani menikah."

Ia berhenti lama sebelum menulis kalimat berikutnya.

"Kalau memang kamu masih menunggu atau mencari seseorang yang lebih dari saya, monggo. Kelak jika kamu tidak menemukannya, boleh datang pada saya. Mungkin saja diri ini masih terbuka untukmu."

Setelah pesan itu terkirim, Raka mematikan layar ponselnya.

Namun malam itu ia tidak bisa tidur.

Beberapa hari berikutnya, Nafisa kembali menjawab dengan nada yang tetap ringan.

"Hahaha gatau kak aku geh, kaya masih pengen main dulu aja, explore. Tapi pengen juga nikah tapi masih main juga."

Raka menghela napas panjang.

Ada sesuatu yang terasa tidak pas. Seolah mereka berbicara tentang dua dunia yang berbeda.

Malam itu ia mencoba menjelaskan semuanya.

Tentang konsep pernikahan yang ia inginkan.

Tentang hubungan yang tidak saling mengekang.

Tentang pasangan yang saling mendukung karier.

Tentang kebebasan yang tetap memiliki arah.

Tentang bagaimana ia tidak ingin istrinya hanya diam di rumah sementara dirinya sering pulang malam dan pergi keluar kota.

Ia mengetik panjang.

Sangat panjang.

Mungkin terlalu panjang.

Namun jawaban Nafisa hanya satu:

"Hahaha gatau kaya belum yakin aj."

Raka menatap layar cukup lama.

Di situlah ia mulai sadar.

Masalahnya bukan tentang konsep pernikahan.

Bukan tentang kebebasan.

Bukan tentang karier.

Nafisa hanya belum siap memilih.

Dan mungkin... belum siap memilih dirinya.

Beberapa hari setelahnya, Raka mulai menjaga jarak.

Bukan dengan marah.

Bukan juga dengan drama.

Ia hanya berhenti membuka ruang yang sebelumnya perlahan mulai tumbuh.

Ketika Nafisa menghubunginya tentang pekerjaan, Raka menjawab seperlunya.

"Iya jadi, saya masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi untuk menyelesaikan proposalnya."

Lalu selesai.

Tidak ada emoji.

Tidak ada basa-basi.

Tidak ada pertanyaan balik.

Nafisa sempat menawarkan bantuan.

"Ada yang mau dibantu enggak? Soalnya proposalku sudah selesai tinggal upload aja."

Raka membaca pesan itu malam hari.

Dulu mungkin ia akan memperpanjang obrolan.

Mungkin bertanya tentang kegiatan Nafisa.

Mungkin melempar candaan.

Mungkin mencari alasan agar percakapan tidak berhenti.

Tapi sekarang tidak.

"Terima kasih tawarannya, jika nanti saya butuh bantuan akan saya kabari."

Sederhana.

Rapi.

Berjarak.

Dan anehnya, justru itu yang paling sulit.


Hari-hari berikutnya berjalan lebih sunyi.

Nafisa tidak lagi menghubunginya kecuali tentang pekerjaan.

Kadang hanya pertanyaan teknis.

"Ni better pake keterangan tahun enggak sih?"

"Kaya tahun 1 tahun berapa, tahun 2 tahun berapa."

"Sepengetahuan saya, yang terpenting jelas ada progres rencana penelitian lima tahun."

"Okay."

Selesai.

Percakapan mereka perlahan berubah menjadi sangat profesional.

Terlalu profesional.

Dan di situlah Raka mulai bertanya-tanya:

Apakah Nafisa benar-benar pergi?

Atau memang sejak awal ia tidak pernah benar-benar datang?

Suatu malam Raka duduk sendiri di sebuah warung kopi kecil dekat kosannya.

Hujan turun pelan.

Laptopnya terbuka, proposal penelitian akhirnya hampir selesai.

Namun pikirannya justru kembali pada semua percakapan itu.

Ia tersenyum kecil.

Ternyata menjaga jarak bukan bagian tersulit.

Yang paling sulit adalah menerima bahwa seseorang bisa hadir begitu dekat di pikiran kita, tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita.

Dan lebih sulit lagi menerima bahwa kita tetap berharap, meskipun kita tahu tidak seharusnya menunggu.

Raka memandang jalanan yang basah.

Ia sadar satu hal malam itu.

Ia masih punya rasa.

Masih ada harapan kecil yang diam-diam tersisa.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak lagi ingin menggantungkan hidupnya pada harapan itu.

Jika suatu hari Nafisa datang kembali dengan keyakinan, mungkin ia akan membuka pintu.

Tapi ia tidak akan duduk di depan pintu itu sambil menunggu.

Karena hidup tetap harus berjalan.

Dan cinta, ternyata, bukan hanya soal mempertahankan seseorang.

Kadang cinta juga berarti tahu kapan harus berhenti memberi ruang.

Hujan semakin deras.

Raka menutup laptopnya perlahan.

Lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar pulang tanpa membawa percakapan itu lagi di kepalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"

SEARCH

RECENT POSTS

Loading posts...

CATEGORIES

TAG CLOUD

Loading tags...