Dan waktu—entah sejak kapan—mulai tertukar,
pagi terasa seperti senja,
dan malam tak lagi membawa pulang lelah,
hanya mengulur rindu yang tak selesai.
Jam-jam berdetak tanpa makna,
seolah enggan mengakui kepergianmu,
seolah kita masih terjebak
di detik terakhir sebelum segalanya berubah.
Aku mencoba mengingat urutan bahagia,
namun kenangan berjatuhan acak,
seperti halaman buku yang tersobek angin,
tak lagi tahu mana awal, mana akhir.
Di sela waktu yang kacau ini,
aku sering bertanya—
apakah kita benar-benar pernah bersama,
atau hanya semesta yang salah menulis cerita?
Dan jika suatu hari waktu kembali benar,
mungkin aku akan menemukanmu lagi—
bukan untuk memiliki,
melainkan untuk mengerti
mengapa kita harus hilang
di saat yang tak seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"