Sudut Kota


Di sudut kota yang lampunya redup,

aku berjalan tanpa tujuan,
menyusuri trotoar yang pernah kita bagi—
kini terasa asing, sepi, dan terlalu panjang.

Bangku tua itu masih setia,
menyimpan tawa yang pernah kita titipkan,
meski kini hanya angin yang duduk di sana,
menggantikan cerita yang tak lagi kita lanjutkan.

Di antara hiruk yang tak mengenal namaku,
aku mencari bayangmu
pada wajah-wajah yang berlalu cepat—
namun tak satu pun berhenti seperti dulu kau menungguku.

Sudut kota ini tak berubah,
hanya kita yang tak lagi sama.
Dan di antara gemerlap yang dingin,
aku belajar—
bahwa kehilangan pun punya alamat,
dan ia selalu tahu ke mana harus pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"

SEARCH

RECENT POSTS

Loading posts...

CATEGORIES

TAG CLOUD

Loading tags...