Lirih—
segala yang tersisa kini hanya berani bersuara pelan,
seperti doa yang takut mengganggu sunyi,
atau rindu yang tak lagi punya tempat pulang.
Namamu kusebut dalam diam,
jatuh perlahan di sela napas yang rapuh,
tak ingin dunia tahu
bahwa aku masih menyimpannya utuh.
Langkahku pun menjadi lirih,
tak lagi mengejar bayangmu yang menjauh,
hanya menyusuri sisa-sisa kita
yang berbisik di setiap sudut kenangan.
Dan jika suatu hari kau mendengar sesuatu
yang nyaris tak terdengar—
itu mungkin aku,
yang akhirnya belajar mencintaimu
tanpa suara,
tanpa tuntutan,
tanpa harus ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"