Maka, jika semesta memberi satu celah,
di antara waktu yang mulai kembali teratur,
akan kucari jejakmu yang tersisa—
meski hanya bayang yang hampir pudar.
Dan bila akhirnya kau berdiri di hadapanku lagi,
dengan mata yang masih menyimpan cerita lama,
tak akan kubiarkan ragu mengambil alih—
kan kugenggam dia,
seperti dulu pertama kali aku percaya pada kita.
Bukan untuk mengulang yang telah retak,
bukan pula untuk menuntut yang telah hilang,
melainkan untuk merasakan sekejap utuh—
sebelum takdir kembali menulis perpisahan.
Karena kini aku mengerti,
tak semua yang digenggam harus dimiliki,
dan tak semua yang kembali
ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Namun di detik singkat itu,
di sela napas yang pernah kita bagi,
biarlah dunia berhenti sejenak—
agar aku bisa benar-benar tahu,
bahwa pernah ada cinta
yang begitu nyata,
meski akhirnya tetap pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"