Jajanan Tradisional Singkong Kering Warisan Desa
Balung Ketela dalam Literasi Kuliner Lokal
Balung ketela tradisional merupakan salah satu kuliner berbasis singkong yang lahir dari budaya masyarakat agraris Indonesia. Dalam kajian literasi pangan, balung ketela mencerminkan cara masyarakat desa mengolah bahan lokal agar tahan lama dan bernilai ekonomi.
Sebagai jajanan tradisional, balung ketela sering diposisikan sebagai makanan ringan. Namun secara historis, kuliner ini memiliki fungsi strategis sebagai cadangan pangan rumah tangga di masa sulit, terutama saat beras sulit diperoleh.
Dalam konteks kekinian, balung ketela relevan dengan isu diversifikasi pangan dan ketahanan pangan nasional. Penggunaan singkong sebagai bahan utama menunjukkan bahwa pangan lokal mampu menjadi solusi berkelanjutan.
Sejarah Singkat Balung Ketela dan Cerita Lokal
Balung ketela dikenal luas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nama “balung” merujuk pada bentuknya yang keras dan kering, menyerupai tulang. Singkong yang telah dikeringkan dipotong kecil lalu diolah kembali saat akan dikonsumsi.
Dalam tradisi lisan masyarakat desa, balung ketela sering dikaitkan dengan masa paceklik. Singkong dikeringkan agar awet berbulan-bulan dan dapat digoreng kapan saja sebagai sumber energi tambahan.
Beberapa cerita lokal menyebutkan bahwa balung ketela sering disiapkan untuk bekal perjalanan jauh atau kerja ladang. Tidak ada unsur mistis kuat, namun ia dipercaya sebagai simbol ketahanan dan keuletan hidup masyarakat desa.
Cara Menikmati Balung Ketela Tradisional
Balung ketela tradisional biasanya dinikmati setelah digoreng hingga renyah. Rasanya gurih alami, kadang diberi sedikit garam atau bumbu bawang sederhana untuk memperkuat cita rasa singkong.
Di beberapa daerah, balung ketela disantap sebagai camilan sore hari bersama teh tawar atau kopi hitam. Teksturnya yang keras di luar dan ringan di dalam memberikan sensasi unik.
Pada masa kini, balung ketela juga mulai dikreasikan dengan bumbu balado atau pedas manis, meskipun versi tradisional tetap paling kuat nilai budayanya.
Bahan-bahan Balung Ketela
Bahan utama balung ketela tradisional sangat sederhana dan mudah diperoleh. Kesederhanaan ini menjadi kekuatan utama kuliner rakyat yang berkelanjutan.
Singkong tua dipilih karena teksturnya lebih padat dan cocok untuk proses pengeringan. Proses alami ini menjadi bagian penting dari tradisi pengolahan pangan desa.
Daftar Bahan:
1 kg singkong tua
Air secukupnya
Garam secukupnya
Minyak goreng secukupnya
Cara Pembuatan Balung Ketela
Proses pembuatan balung ketela menekankan kesabaran dan ketelitian. Singkong dikupas, dicuci, lalu dipotong memanjang sebelum dijemur hingga benar-benar kering.
Setelah kering, singkong dapat disimpan dalam waktu lama. Saat akan dikonsumsi, singkong kering digoreng dalam minyak panas hingga mengembang dan renyah.
Proses ini menunjukkan pengetahuan lokal dalam mengawetkan pangan tanpa bahan kimia, sebuah praktik yang relevan dengan literasi pangan berkelanjutan.
Estimasi Biaya Pembuatan
Balung ketela termasuk kuliner dengan biaya produksi rendah. Satu kilogram singkong dapat menghasilkan camilan untuk beberapa kali konsumsi.
Perkiraan biaya:
Singkong: Rp5.000 – Rp8.000
- Minyak goreng & bumbu: Rp7.000Total estimasi: ± Rp15.000
Biaya murah ini menjadikan balung ketela potensial sebagai produk UMKM desa.
Link Order Balung Ketela
Balung ketela dapat ditemukan secara terbatas di marketplace dan pasar tradisional.
GoFood: https://gofood.co.id (tergantung wilayah)
Comments
Tidak ada komentar:
"Terimakasih telah berkunjung ke blog kami, semoga anda dapat menemukan apa yang anda cari. Mohon untuk menambahkan komentar!"